Kamis, 13 Oktober 2011

Di Sebuah Ruang Tunggu



Aku duduk dalam diam. bersandar pada kursi di sebuah ruang tunggu entah dimana tepatnya. disini sesak. sangat penuh. tak ada ruang untuk bergerak. jangankan bergerak, bernafas saja rasanya sudah mulai sulit.

sudah 2 jam aku diam disini. bermaksud menunggu seseorang, tapi dia yang kutunggu itu tak kunjung datang. kupandangi angka-angka yang terpajang pada jam tangan yang melingkar di tangan kiriku terus-menerus. aku mulai bosan. kupandangi sekelilingku penuh dengan para gadis. mungkin mereka sedang melakukan hal yang sama denganku; Menunggu. aku coba memandangi mereka satu-persatu lalu sebisa mungkin kucoba masuk dalam pikiran mereka dalam-dalam. aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang mereka tunggu.
untuk pertama kalinya, aku berhasil masuk ke lubang pikiran seorang gadis berambut pendek yang duduk tepat dihadapanku. Lalu aku bertanya pada pikirannya, “Apa yang sedang kau tunggu?” Dia menjawab singkat, “bukan apa tapi siapa”. setelah berbincang lebih jauh, ternyata gadis itu sedang menunggu kekasihnya. kekasih yang 4 tahun lalu pergi meninggalkannya untuk meneruskan sekolah ke luar kota. kekasih gadis itu berjanji akan menemuinya 2 hari lalu, seharusnya. tapi sampai hari ini, apa yang diucapkan kekasih gadis itu belum terbukti benarnya. aaaaah tuhaaaan, semoga saja kekasih gadis itu benar datang…
Setelah puas bertanya pada gadis yang duduk tepat dihadapanku itu, tiba-tiba saja aku merasakan pikiranku seolah-olah terbang. melayang melintasi kerumunan gadis-gadis. dan baru aku sadari ternyata aku telah kembali masuk ke dalam pikiran seseorang. dia adalah gadis berkacamata, berpenampilan sangat rapih yang duduk dibelakangku. Aku bertanya padanya, “apa yang kau lakukan disini?”, dia menjawab, “tak berbeda denganmu”, aku kembali bertanya, “siapa yang kau tunggu?” dia tak menjawab dan hanya menyodorkanku sebuah foto. usut punya usut ternyata foto itu adalah Ibunya. kedua orang tuanya telah bercerai sejak dia masih berumur 4 tahun. Ibunya memutuskan pindah tempat tinggal. dan sampai saat aku bertanya, dia ternyata belum mengetahui dimana sesungguhnya sang ibu berada. bahkan keputusan untuk menunggu sang ibu pun bukan karena sang ibu telah berjanji untuk menemuinya melainkan hanya karena dia mempunyai firasat bahwa sang ibu akan menemuinya. hanya firasat? dia telah menunggu lama tapi dia ternyata tidak tahu kapan tepatnya orang yang ditunggunya itu akan datang. lalu akan berapa lama dia menunggu seperti itu?
Aku seolah-olah kembali terbang. Kembali melintasi kerumunan gadis-gadis yang tengah menunggu itu. dan aku ternyata telah mengetuk pintu pikiran seorang gadis berparas cantik yang duduk disebelahku. Pikiran gadis itu menyapaku dengan ramahnya. “Hai, siapa kamu? Ada apa datang kesini?”. Aku menyahuti sapaan gadis itu, “Aku gadis yang sedang menunggu. Apakah kau juga menunggu? Siapa yang kau tunggu?” Dia Menjawab, “Aku menunggu seseorang yang aku cinta”  Aku kembali menjawab, “kekasihmu?” dengan cepat dia menyanggah, “Bukan. Dia adalah satu-satunya yang aku cintai sejak aku masih duduk di bangku smp. Aku harap dia tahu bahwa aku sedang menunggu kedatangannnya saat ini”. Aku terkejut. Ternyata dia sedang menunggu seseorang yang tak jelas kabarnya. Hanya karena dia mencintai orang itu maka  dia rela menunggu hingga batas waktu tak tentu. semoga yang terbaik datang pada gadis baik itu, amin
Ditengah-tengah kesibukan yang tejadi di ruang tunggu, salah seorang gadis berteriak seraya menangis. Dia nampak begitu  frustasi. Ternyata menurut informasi, gadis itu baru saja masuk ke ruang tunggu. Lalu untuk apa dia berteriak dan begitu frustasi?. Masih menurut informasi dari orang yang sama, gadis itu merasa bahwa dia sudah lelah menunggu. Dia tidak ingin lagi menunggu. Dan menurut gadis itu, dengan dia menunggu belum tentu orang yang ditunggunya itu akan datang dan kembali bersamanya. Tidakkah dia lihat gadis-gadis lain disekelilingnya? Hampir semua dari mereka telah menunggu lebih dari 24 jam. Lihat saja, rambut mereka acak-acakan, baju mereka kusut, wajah mereka sudah terlalu lelah untuk berekspresi. Mereka jauh lebih lama menunggu dibandingkan kamu, Gadis yang baru datang! Bersabarlah, duduklah bersama kami disini!. Gadis yang baru datang itu terus menangis sambil meneriakkan kekesalannya akibat menunggu terlalu lama, menurutnya. Tak lama kemudian, gadis itu pergi dari ruang tunggu. Dan semua yang ada di ruang tunggu mendengar kabar bahwa diluar sana, si gadis itu bertemu dengan orang yang ditunggunya. Yang tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya. Tetapi, gadis itu dan kekasihnya bertengkar. Begitu kabarnya. Mereka bertengkar karena kekasihnya mengira bahwa gadis itu tidak mau menunggu kedatangannya dan akan pergi bersama pria lain. Karena apapun pertengkaran mereka diluar sana, tetapi begitulah kabar yang kami dengar.
Ketika sedang asyiknya membongkar pikiran satu demi satu gadis di ruangan itu tiba-tiba aku tersadarkan oleh bunyi pintu. Seperti ada yang datang. Semua mata yang ada di ruang tunggu tertuju pada suara yang dikeluarkan pintu itu. Lewat matanya mereka semua seperti mengatakan  bahwa semoga saja yang membuka pintu itu adalah orang yang mereka tunggu. Termasuk aku. Aku pun melayangkan pandanganku ke pintu itu dengan penuh harap. Semoga dia tuhan, semogaaaa. Begitulah harapku. Kupandangi mata-mata para gadis disebelahku tak kalah tegangnya. Harap-harap cemas, sepertinya begitu.
“kreeeeek…” begitu suara pintu terdengar.
Ternyata dugaanku benar. Yang datang adalah yang ditunggu. Bukan hanya satu orang.  Mereka datang bergerombol. Aku sulit menghitung jumlahnya. Yang jelas mereka mulai berjalan masuk ke ruangan dan mencari gadis manakah yang telah menunggu mereka.satu per satu mulai menemukan pasangannya. Bahagia rasanya. Setelah cukup lama menunggu akhirnya saat-saat seperti ini tiba juga. Aku ikut larut dalam kebahagiaan di ruang tunggu. Dan tanpa sadar seseorang telah berdiri di sebelahku. Dia adalah gadis berparas cantik yang tadi kusapa pikirannya. Dia bertanya, “kau sendiri, sedang menunggu siapakah engkau?” Aku menjawab, “Bukan siapa-siapa . tapi aku mencintai dia” Dia bertanya kembali, “dia tahu kau menunggunya disini?” Aku pun menjawab, “sama sepertimu. Aku hanya berharap dia tahu bahwa aku kini sedang menunggunya”. Setelah pernyataan terakhirku di perbincangan antara aku dan Gadia berparas cantik itu, dia langsung berjalan meninggalkan aku menuju pintu. Di tangannya, ada tangan yang  menggandengnya erat dan menuntunnya menuju pintu untuk keluar. Ah, ternyata harapan dia menjadi kenyataan. Yang dia cintai  tahu bahwa dia tengah menunggu kedatangan yang dicintainya itu. Lalu mataku berpaling. Kulihat seorang gadis berkacamata yang tadi sempat aku sapa dalam pikiran. Dia juga telah bertemu dengan ibu tercintanya. Akhirnya, sang ibu tahu bahwa dia sudah menunggu disini dalam lelah begitu lama.  Mereka keluar pintu ruang tunggu dengan senyuman lebar yang mengembang di kedua wajah ibu dan anak itu. tak berapa lama kemudian, kudengar suara tangisan. Semakin lama suara itu semakin membesar. Siapakah yang menangis itu?. ternyata dia. Si gadis berambut pendek yang pikirannya kukunjungi pertama kali.
Aku bertanya padanya,   “ada apa? Dimanakah kekasih yang kau tunggu? Dia sudah datang-kah? “
Bukannya menjawab, Suara tangisannya justru semakin meledak-ledak. Aku tanya lagi, “mengapa? Ada apa denganmu?” Dia menjawab singkat sambil menyodorkan sebuah kertas surat kepadaku, “lihat ini”.
ternyata surat itu dari kekasih yang telah dinantikan olehnya. Dalam surat itu tertera jelas kalimat yang menyatakan bahwa si kekasihnya itu tidak akan lagi kembali dan akan memulai segala sesuatu yang baru di tempatnya melanjutkan sekolah. Dengan kata lain kekasihnya itu ingin dia berhenti menunggu dan menyelesaikan hubungan mereka yang sudah lama dijalin dengan status Long Distance itu. Aku mengerti sekarang. Suasana di ruang tunggu ini begitu kontras. Di satu sisi, ada mereka yang  tersenyum bahagia karena telah bertemu dengan orang yang telah mereka tunggu. Di sisi lain, ada mereka yang wajahnya melukiskan kesedihan karena yang mereka tunggu tak kunjung datang bahkan positif tidak akan datang. Lalu bagaimana denganku? Ah nasibku tak jauh berbeda dengan Gadis yang menangis ini. dia mungkin baru putus hubungan. Tapi aku? Aku rasa aku lebih buruk. Belum memulai hubungan apapun dan masih akan terus berusaha menunggu.
Aku dekati gadis yang menangis itu. aku genggam tangannya dan aku berkata,
“menunggu Cinta/kekasih itu seperti menunggu kereta, kawan”
Dia tersenyum. Dan kami pun berpelukan. Aku yakin dia paham  maksud dari kata-kataku itu.
Di ruang tunggu Semua hal dapat terjadi. Di ruang tunggu tak selamanya membosankan. Aku percaya, seperti yang kukatakan pada Gadis berambut pendek yang menangis itu, Menunggu Cinta/kekasih itu seperti menunggu kereta. Banyak kemungkinan dapat terjadi;
  1. Ketika kita telah mengantongi tiket untuk sebuah tujuan, lalu kita datang ke stasiun tepat waktu *sesuai dengan jadwal keberangkatan kereta yang akan kita naiki* maka, kita hanya tinggal naik ke kereta dan menikmati perjalanan dengan kereta itu sampai tujuan.
  2. Ketika kita telah mengantongi tiket namun kita datang ke stasiun tak sesuai jadwal keberangkatan kereta atau terlamat maka, kita dengan sangat terpaksa harus mengikhlaskan kepergian kereta itu dan mencari kereta lain dengan tujuan yang sama. Semoga saja ada.
  3. Ketika kita telah mengantongi tiket dan datang ke stasiun tepat waktu tapi ternyata kereta yang seharusnya sudah datang itu belum datang karena ada satu dua hal yang menghambat. Maka, kita harus memilih menunggu dengan sabar atau pergi dan mencari kereta lain yang bisa berangkat tanpa kita haru menunggu.
  4. Ketika kita tidak memiliki tiket dan tidak tahu kemana kita akan pergi dengan kereta itu, seberapa cepat kedatangan kereta itu tak akan mempengaruhi kita. Karena kita tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki tiket. Maka, bersabarlah kereta! Karena engkau tidak akan dinaiki oleh golongan nomor 4 ini!
Itulah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi ketika kita sedang menunggu cinta/kekasih jika menunggu cinta/kekasih itu diibaratkan seperti menunggu kereta. Jadi, nomor berapakah diantara kemungkinan itu yang akan kalian pilih?.
Nikmatilah waktumu ketika menunggu seseorang/cinta/kekasih maka kau akan menemukan sebuah pengalaman yang tak ternilai harganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar